Popular Posts

Showing posts with label AFC. Show all posts
Showing posts with label AFC. Show all posts

1/04/2012

FIFA Tegaskan Hanya Akui PSSI, Bukan ISL

Klaim Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) bahwa mereka sudah mengambil alih kendali PSSI ternyata tak mendapatkan pengakuan dari otoritas tertinggi sepak bola dunia, FIFA.

Dalam suratnya yang diterima Republika, FIFA mengemukakan bahwa mereka tetap mengakui PSSI sebagai pengendali seluruh kegiatan sepak bola nasional dan memiliki hak sepenuhnya untuk menjalankan kompetisi sepak bola di tanah air.

Intisari surat tersebut, FIFA tetap mempercayakan pengelolaan sepak bola Indonesia pada kepemimpinan Djohar Arifin Husin, sekaligus tidak mengakui eksistensi dari ISL sebagai liga yang resmi.

Berikut nukilan dari surat FIFA tersebut:

FIFA would like to highlight that the role of the PSSI is to organise and supervise in all its form at national level, as well as to control association football in the territory of its country, as stipulated in the FIFA Statutes (cf. art. 10 and art. 13 of the FIFA Statutes).

FIFA and AFC strongly encourage the PSSI and the clubs that have joined the break-away ISL to find an amicable solution to the current situation for the common good of Indonesian football. However, should this not be possible, the PSSI must take appropriate measures to ensure that all football activities remain under its control.

As you know on 15 December 2011 a meeting between a FIFA/AFC delegation and PSSI took place in Tokyo. PSSI was reminded that Art. 18 al. 1 of the FIFA Statutes prescribes that “Leagues or any other groups affiliated to a Member of FIFA shall be subordinate to and recognized by that Member.

The ISL is neither subordinate to nor recognized by PSSI. The clubs playing in the ISL, by their action, are jeopardizing the capacity of PSSI to comply with the FIFA statutes. It is thus essential that PSSI takes appropriate measures in order that the clubs playing in the ISL come back under the control of PSSI.

FIFA advises that no PSSI official (in particular referees) should officiate in the ISL. Players playing in the break-away ISL will not be able to be transferred abroad, as the Transfer Matching System (TMS) will be switched off for the ISL clubs. These players should also not be allowed to play in their national team.

Should the situation not be resolved by 20 March 2012, FIFA will have to report the case of the PSSI to the FIFA Associations Committee for review and possible sanction

Kind regards,

FIFA Media department


Atau bila diterjemahkan bebas adalah seperti ini:

FIFA ingin menegaskan jika peran PSSI adalah untuk menyelenggarakan dan mengendalikan semua bentuk kegiatan di level nasional, pun juga mengendalikan asosiasi sepak bola dalam wilayah negaranya, sebagaimana diatur dalam statuta FIFA (pasal 10 dan pasal 13).

FIFA dan AFC memberi dorongan kuat untuk PSSI dan klub yang bergabung dengan liga yang memisahkan diri, ISL, untuk menemukan solusi yang menenangkan bagi situasi saat ini, demi kebaikan persepakbolaan Indonesia. Meski demikian, jika itu tak dimungkinkan, PSSI harus mengambil tindakan yang tepat untuk memastikan semua aktivitas sepak bola masih dalam kendalinya.

Sebagaimana kita ketahui pada 15 Desember 2011 diadakan pertemuan antara delegasi FIFA dan AFC bersama PSSI di Tokyo. PSSI diingatkan bahwa pasal 18 ayat 1 dari Statuta FIFA menetapkan bahwa liga atau semua grup lain yang terafiliasi dengan anggota FIFA harus berada di bawah atau diakui oleh Anggota FIFA tersebut.

ISL tidak tunduk atau diakui oleh PSSI. Klub yang bermain di ISL, lewat aksi mereka, tengah membahayakan kapasitas PSSI untuk menegakkan statuta FIFA. Oleh karenanya amat penting agar PSSI mengambil langkah yang tepat demi klub-klub tersebut kembali berada di bawah kendali PSSI.

FIFA menyarankan agar tak seorang pun ofisial PSSI (terutama wasit) untuk memimpin di ISL. Pemain yang berlaga di dalam liga yang memisahkan diri tak akan bisa hijrah ke luar negeri, karena Transfer Matching System (TMS) akan dimatikan untuk klub-klub ISL. Para pemain ini juga tak akan diijinkan bermain di tim nasionalnya.

Andai situasi ini tak diselesaikan hingga 20 Maret 2012, FIFA akan melaporkan kasus PSSI ini pada Komite Asosiasi FIFA untuk dipelajari dan kemungkinan pemberian sanksi.

Bola.net

12/31/2011

Djohar Tetap Yakin Kepemimpinannya Tetap Diakui FIFA-AFC

Ketua Umum PSSI Djohar Arifin tetap percaya bahwa kepemimpinannya di PSSI masih mendapat legitimasi dari AFC maupun FIFA.

"Jangan kacaukan keadaan. Semua harus berpikir untuk kepentingan bangsa. Kita harus berusaha agar bagaimana tetap berada dalam barisan FIFA maupun AFC. Jangan hanya ingin merebut kedudukan, 'Merah Putih' dikorbankan," kata Djohar dikutip dari Humas PSSI.

Menurut Djohar, pihaknya tidak begitu gusar dengan adanya "kudeta" yang dilancarkan Kelompok Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI), terhadap kepemimpinannya di induk organisasi sepak bola nasional.

Djohar yang saat ini tengah pulang kampung di Medan, dalam rangka liburan tahun baru, meminta kepada semua pihak tidak bertindak gegabah, yang nantinya justru berbuntut pada sanksi yang dijatuhkan untuk sepak bola Indonesia.

Sebagai sebuah organisasi, menurut Djohar, PSSI punya aturan main tersendiri yang wajib dipatuhi semua pihak. Apalagi, saat ini FIFA maupun AFC baru saja memerintahkan agar semua kompetisi harus di bawah kendali PSSI "Kita sedang berupaya agar klub di luar kompetisi resmi bisa ikut kompetisi PSSI. Selain itu, timnas kita bisa utuh seperti semula dan bukan sebaliknya," katanya.

Bola.net

12/23/2011

Isi Surat FIFA kepada PSSI

FIFA menilai klub-klub yang bermain di Indonesia Super League (ISL) mengancam kapasitas PSSI untuk melaksanakan Statuta FIFA karena ISL bukanlah anggota PSSI. Oleh karena itu, FIFA meminta PSSI segera mengambil tindakan yang tepat agar klub-klub yang bermain di ISL kembali di bawah kontrol PSSI.

Hal itu merupakan salah satu poin dari enam poin dari surat FIFA dan AFC yang dilayangkan kepada PSSI pada Kamis (22/12/2011). Surat itu merupakan konfirmasi dari hasil pertemuan Tokyo pada 15 Desember lalu.

Pertemuan Tokyo yang diikuti Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin, Wakil Ketua Umum PSSI Farid Rahman, Sekjen PSSI Tri Goestoro, Sekjen FIFA Jerome Valcke, Acting President AFC Zhang Jilong, dan Sekjen AFC Alex Soosay itu digelar untuk membicarakan situasi persepakbolaan yang terjadi di Indonesia, yakni dualisme kompetisi, Indonesia Super League dan Indonesia Premier League (IPL).

Berikut ini adalah konfirmasi FIFA dan AFC dalam surat yang ditandatangani Sekjen FIFA Jerome Valcke dan Sekjen AFC Alex Soosay itu:

Pertama, Statuta FIFA Pasal 18 butir satu menulis bahwa "Liga atau grup sepak bola lainnya yang berafilisasi sebagai anggota FIFA harus tunduk dan diakui sebagai anggota". Pasal ini juga dicerminkan dalam Pasal 16 butir 1 Statuta AFC yang menyatakan bahwa "Klub, liga, asosiasi regional, atau grup-grup lainnya dari stakeholder yang berafilasi ke anggota asosiasi harus tunduk kepada dan diakui sebagai anggota PSSI.

Kedua, ISL bukanlah anggota PSSI dan juga tidak dikenal oleh PSSI. Klub-klub yang bermain di ISL oleh karena tindakannya akan mengancam kapisitas PSSI untuk melaksanakan Statuta FIFA. Dengan demikian, ini merupakan sesuatu yang esensial bahwa PSSI akan mengambil suatu tindakan yang layak agar klub-klub ISL kembali di bawah kontrol PSSI. Apabila klub-klub tersebut tidak patuh akan segera dikenai sanksi.

Ketiga, permintaan tegas dari FIFA dan AFC bahwa tidak diperkenankan perangkat pertandingan PSSI, terutama wasit, untuk ikut serta dalam kegiatan ISL. Bagi mereka yang melanggar akan diberikan sanksi.

Keempat, pemain yang bermain di liga ISL tidak bisa ditransfer untuk bermain keluar negeri. TMS (transfer matching system) mereka akan dicabut. PSSI diminta menyampaikan kepada FIFA dan AFC daftar nama klub-klub yang ikut ISL.

Kelima, pemain-pemain ISL juga tidak diperkenankan bermain di timnas.

Keenam, apabila sampai 20 Maret situasi kekisruhan ini tidak juga berakhir, maka persoalan PSSI akan dilaporkan kepada Komite Asosiasi FIFA dan sanksi akan dikenakan kepada Indonesia.

"FIFA juga sangat mengharapkan agar ISL kembali ke PSSI. Namun, apabila tidak terjadi, maka PSSI diminta harus mengambil tindakan tegas untuk memastikan semua kegiatan sepak bola masih di bawah kontrol PSSI," kata juru bicara PSSI, Eddie Elison, Kamis (22/12/2011).

Eddie menyampaikan, PSSI siap berekonsiliasi demi menyelesaikan kisruh yang terjadi di sepak bola nasional. Menurut dia, persatuan akan membawa pada prestasi bagi Indonesia.

"Mari bersatu kembali. Dengan persatuanmaka prestasi yang diinginkan bisa tercapai," katanya.

Kompas.com

12/08/2011

Ketua PSSI Diminta Jangan Bohongi Publik

Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin diminta untuk tidak melakukan kebohongan terhadap publik. Anggota Komite Eksekutif PSSI, Roberto Rouw, meminta Djohar untuk tidak terus menyebutkan bahwa Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) yang mencoret Persipura Jayapura dari Liga Champions Asia (LCA) 2012.

"Persipura bukan mewakili Papua saja, tapi Indonesia. Ini yang harus digarisbawahi. Jangan terus bohongi publik dengan membuat pernyataan AFC coret. Persipura tidak dicoret, tetapi tidak didaftarkan PSSI," kata Roberto kepada wartawan di sela-sela unjuk rasa Persipura Mania di kantor PSSI, Kamis (8/12/2011) siang.

Roberto mengaku heran dengan keputusan Djohar yang tidak mendaftarkan Persipura selaku juara Indonesian Super League (ISL) pada musim lalu. "Mereka harus menjelaskan ini. Jelaskan ke masyarakat kenapa Persipura tidak didaftarkan," tegas Roberto.

"PSSI memang legal, tapi kebijakan pengurus ilegal dengan menggelar kompetisi yang diikuti 24 klub. Karena itu, Persipura memilih ikut ISL musim ini," sambungnya.

Roberto berjanji akan memperjuangkan hak Persipura dengan bertemu pemilik suara. "Kita minta segera rapat, adakan pertemuan antara stake holder dengan voter. Saya tidak ingin ini berlarut-larut. Kongres luar biasa jalan terbaik," beber Roberto.

Sementara itu, massa telah meninggalkan kantor PSSI. Mereka melanjutkan unjuk rasanya di Kantor Menteri Pemuda dan Olahraga. Rencananya, mereka juga akan menggelar aksi yang sama esok hari.

Kompas.com

7/15/2011

Jakmania Berharap Persija Tampil di Piala AFC

Persija Jakarta mendapat hikmah dari tidak digelarnya Piala Indonesia (PI) pada tahun ini. Itu karena, tim berjuluk Macan Kemayoran tersebut bakal menjadi wakil tim Indonesia yang tampil di Piala AFC.

Merujuk pada regulasi, jika PI ditiadakan maka tim yang berhak tampil di Piala AFC adalah tim yang finis di peringkat ketiga. Dengan demikian, Persija Jakarta yang berhak tampil karena finis di peringkat ketiga di klasemen akhir Indonesia Super Liga (ISL) musim ini.

"Tentu kami senang mendengar kabar ini. Tapi harus menunggu perkembangan selanjutnya," tandas Sekretaris Jenderal the Jakmania Richard Ahmad kepada Bola.net, di Jakarta, Kamis (14/7).

Sayangnya, Persija memang masih harus bersabar menunggu. Sebab, anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI sekaligus Koordinator Bidang Kompetisi, Sihar Sitorus, yang belum dapat memastikan mengenai tim yang berhak tampil di ajang Piala AFC.

Sihar hanya memberikan sinyal bahwa PI besar kemungkinan tidak digelar karena berbagai pertimbangan. Diantaranya aspek sponsor dan kesiapan panitia pelaksana kompetisi. Karena itu, wajar jika spekulasi yang berkembang Persija berhak tampil di Piala AFC.

Richard juga berharap, wacana tersebut bisa menjadi kenyataan. Sebab, tim kebanggaannya sudah lama tidak tampil di ajang internasional dan meraih juara.

"Ya, kami semua mengharapkan itu," harap Richard.

Bola.net

6/21/2011

Peluang Persija ke Kompetisi Asia Masih Ada

Persija Jakarta mengakhiri musim 2010-11 dengan finish di peringkat tiga klasemen akhir. Tim Macan Kemayoran yang menang 3-0 di pertandingan terakhir melawan PSPS Pekanbaru harus tergusur ke posisi dua setelah Arema Indonesia menggilas Bontang FC 8-0.

Jumlah nilai Persija dan Arema memang sama. Namun, Persija kalah dalam produktivitas gol. Ini membuat peluang Tim Macan Kemayoran menuju pentas kompetisi Asia diragukan.

Pasalnya, jika Konfederasi Sepakbola Asia (AFC) hanya memberi jatah dua klub dari Indonesia ke kompetisi AFC, maka hanya Persipura dan Arema yang melenggang. Persipura langsung lolos ke Liga Champions sedangkan Arema lewat kualifikasi atau ke Piala AFC.

Tapi jika berpatokan pada jatah musim 2010-11 di mana Indonesia mendapat jatah tiga klub ke Asia, maka tim ketiga dari Indonesia bisa ikut di arena Piala AFC.

Jatah ketiga musim itu didapat Sriwijaya FC yang menjuarai Piala Indonesia 2010. Kompetisi inilah yang sampai sekarang masih belum terlaksana. Direktur PT Liga Joko Driyono menargetkan Piala Indonesia dilaksanakan sesudah Kongres PSSI dan bulan Ramadhan.

"Piala Indonesia belum tereksekusi terkait dinamika organisasi dan takut kualitas turun karena ada peserta yang tidak berminat," kata Joko dalam jumpa pers di Rasuna Office Park, Kuningan, Jakarta, Senin 20 Juni 2011.

"Piala Indonesia pasti dilaksanakan setelah Kongres dan bulan Puasa. Kami targetkan satu bulan selesai. Seperti Piala Dunia yang diikuti 32 tim," tambahnya.

Jika akhirnya terlaksana, Piala Indonesia harus selesai sebelum November karena di bulan itulah akan diputuskan berapa jatah Indonesia ke Asia. Sebulan kemudian, tepatnya Desember, proses registrasi akan dilakukan.

Jika pun akhirnya gagal dilaksanakan dan jatah Indonesia bertambah, maka Persija sebagai peringkat ketiga langsung melenggang ke Asia."Persija berdoa saja supaya kondisinya seperti itu," kata Joko lagi.

Sumber : vivanews

2/05/2011

Pengamat: LPI Bisa Menjadi Kompetisi Kasta Kedua Menggantikan Divisi Utama

Kompetisi Superliga Indonesia diperkirakan akan tetap menjadi kompetisi dengan kasta tertinggi di ajang sepakbola Indonesia, meskipun setelah kongres PSSI mengakibatkan perubahan struktur kepengurusan pada tubuh induk organisasi sepakbola tertinggi di Indonesia tersebut.

Menurut pengamat sepakbola dari Sulawasi Selatan, Yopie Lumoindong, Superliga merupakan produk resmi dari FIFA dan AFC, sehingga status Superliga sebagai kompetisi tertinggi di tanah air tidak dapat tergantikan.

"Banyak orang mengira LSI itu merupakan kompetisi bentukan PSSI, sehingga bisa saja diubah jika kepemimpinan berubah. Hal itu tentu tidak benar karena LSI merupakan produk dari AFC dan FIFA," jelasnya.

Yopie menjelaskan bahwa Liga Primer Indonesia (LPI) yang digagas oleh Arifin Panigoro tidak mungkin menjadi pengganti Superliga. Yopie beralasan bahwa untuk menyelenggarakan sebuah kompetisi profesional, yang diperlukan bukan hanya sportifitas tetapi juga membutuhkan legalitas.

Tetapi Yopie menambahkan bahwa status ilegal yang sekarang disandang kompetisi LPI dapat berubah menjadi legal setelah kepengurusan PSSI berganti. Hanya saja, kompetisi tersebut tetap tidak dapat menggantikan kompetisi Superliga saat ini, tetapi untuk menjadi kasta kedua menggantikan Divisi Utama masih memungkinkan.

"LPI bisa saja mengganti kompetisi Divisi Utama yang merupakan kompetisi kasta kedua. Peluang itu bisa terjadi jika sosok yang didukung pihak LPI pada kongres PSSI berhasil menjadi Ketua Umum PSSI yang baru," katanya.

Goal.com
-----------------------------------------------------------------
This Blog is @2008-2011 MULTI ETNIS Outlet Production

jakmania-utankayu.blogspot.com
Persija ampe mati..
-----------------------------------------------------------------