Popular Posts
-
Sepekan sebelum Liga Super Indonesia (LSI) 2009/2010 digelar, Persija Jakarta belum juga mendapatkan kepastian home ground. Pasalnya, Stadio...
-
Persija Jakarta versi Bambang Sucipto yang tampil di Indonesian Premier League (IPL) memilih menjauh dari ibukota. Pilihan tersebut ditempu...
-
Partai Uji Coba 31 / 10 / 09 PERSIJA vs PERSITA Lap. Mabes TNI Cilangkap Persija.. Kebanggan Ibu Kota !!
2/07/2012
KPSI: Semua Pemain Berhak Perkuat Timnas
Ketua KPSI, Toniy Apriliani menyatakan semua pemain sepakbola yang berwarganegara Indonesia berhak menjadi pemain timnas. Ia bahkan mengklaim mendapatkan dukungan Menpora terkait hal tersebut.
Semua pemain mempunyai kesempatan yang sama untuk memperkuat timnas. Menpora juga mendukung. Jadi kami akan mengupayakannya," ujar Tony.
Seperti yang diketahui, saat ini PSSI melarang pemain ISL memperkuat timnas dan hanya memanggil pemain-pemain yang tampil di kompetisi Indonesian Premier League (IPL) guna memperkuat timnas di semua level usia yaitu timnas U-21, U-23 dan timnas senior.
Tony menilai pelarangan tersebut tidak berdasar, apalagi Malaysia masih tetap memanggil Safee Sali untuk memperkuat timnas mereka meskipun dia berstatus pemain Pelita Jaya yang berkompetisi di ISL.
"Seperti FAM (federasi sepak bola Malaysia) memanggil Safee Sali yang saat ini bermain di Pelita Jaya. Berarti tetap bisa memperkuat timnas. Yang jelas tidak ada kata terlambat bagi PSSI untuk memanggil pemain ISL," katanya.
Goal.com
1/04/2012
FIFA Tegaskan Hanya Akui PSSI, Bukan ISL
Dalam suratnya yang diterima Republika, FIFA mengemukakan bahwa mereka tetap mengakui PSSI sebagai pengendali seluruh kegiatan sepak bola nasional dan memiliki hak sepenuhnya untuk menjalankan kompetisi sepak bola di tanah air.
Intisari surat tersebut, FIFA tetap mempercayakan pengelolaan sepak bola Indonesia pada kepemimpinan Djohar Arifin Husin, sekaligus tidak mengakui eksistensi dari ISL sebagai liga yang resmi.
Berikut nukilan dari surat FIFA tersebut:
FIFA would like to highlight that the role of the PSSI is to organise and supervise in all its form at national level, as well as to control association football in the territory of its country, as stipulated in the FIFA Statutes (cf. art. 10 and art. 13 of the FIFA Statutes).
FIFA and AFC strongly encourage the PSSI and the clubs that have joined the break-away ISL to find an amicable solution to the current situation for the common good of Indonesian football. However, should this not be possible, the PSSI must take appropriate measures to ensure that all football activities remain under its control.
As you know on 15 December 2011 a meeting between a FIFA/AFC delegation and PSSI took place in Tokyo. PSSI was reminded that Art. 18 al. 1 of the FIFA Statutes prescribes that “Leagues or any other groups affiliated to a Member of FIFA shall be subordinate to and recognized by that Member.
The ISL is neither subordinate to nor recognized by PSSI. The clubs playing in the ISL, by their action, are jeopardizing the capacity of PSSI to comply with the FIFA statutes. It is thus essential that PSSI takes appropriate measures in order that the clubs playing in the ISL come back under the control of PSSI.
FIFA advises that no PSSI official (in particular referees) should officiate in the ISL. Players playing in the break-away ISL will not be able to be transferred abroad, as the Transfer Matching System (TMS) will be switched off for the ISL clubs. These players should also not be allowed to play in their national team.
Should the situation not be resolved by 20 March 2012, FIFA will have to report the case of the PSSI to the FIFA Associations Committee for review and possible sanction
Kind regards,
FIFA Media department
Atau bila diterjemahkan bebas adalah seperti ini:
FIFA ingin menegaskan jika peran PSSI adalah untuk menyelenggarakan dan mengendalikan semua bentuk kegiatan di level nasional, pun juga mengendalikan asosiasi sepak bola dalam wilayah negaranya, sebagaimana diatur dalam statuta FIFA (pasal 10 dan pasal 13).
FIFA dan AFC memberi dorongan kuat untuk PSSI dan klub yang bergabung dengan liga yang memisahkan diri, ISL, untuk menemukan solusi yang menenangkan bagi situasi saat ini, demi kebaikan persepakbolaan Indonesia. Meski demikian, jika itu tak dimungkinkan, PSSI harus mengambil tindakan yang tepat untuk memastikan semua aktivitas sepak bola masih dalam kendalinya.
Sebagaimana kita ketahui pada 15 Desember 2011 diadakan pertemuan antara delegasi FIFA dan AFC bersama PSSI di Tokyo. PSSI diingatkan bahwa pasal 18 ayat 1 dari Statuta FIFA menetapkan bahwa liga atau semua grup lain yang terafiliasi dengan anggota FIFA harus berada di bawah atau diakui oleh Anggota FIFA tersebut.
ISL tidak tunduk atau diakui oleh PSSI. Klub yang bermain di ISL, lewat aksi mereka, tengah membahayakan kapasitas PSSI untuk menegakkan statuta FIFA. Oleh karenanya amat penting agar PSSI mengambil langkah yang tepat demi klub-klub tersebut kembali berada di bawah kendali PSSI.
FIFA menyarankan agar tak seorang pun ofisial PSSI (terutama wasit) untuk memimpin di ISL. Pemain yang berlaga di dalam liga yang memisahkan diri tak akan bisa hijrah ke luar negeri, karena Transfer Matching System (TMS) akan dimatikan untuk klub-klub ISL. Para pemain ini juga tak akan diijinkan bermain di tim nasionalnya.
Andai situasi ini tak diselesaikan hingga 20 Maret 2012, FIFA akan melaporkan kasus PSSI ini pada Komite Asosiasi FIFA untuk dipelajari dan kemungkinan pemberian sanksi.
Bola.net
1/03/2012
KPSI & PSSI Berkantor di Gelora Bung Karno
Sebelumnya Anggota Komite Eksekutif PSSI, Roberto Rouw, mengatakan, KPSI akan mengambil alih kantor PSSI mulai Senin, 2 Januari 2012. Namun hal ini diklarifikasi oleh Toni.
"Siapa yang bilang begitu? Saya enggak pernah bilang seperti itu. Yang benar kami berkantor di wilayah di sekitar PSSI. Semua sudah siap," ujar Toni saat dihubungi wartawan.
KPSI sendiri rencananya mulai berkantor di Senayan hari ini. Selanjutnya, KPSI akan bekerja sesuai agenda, yakni mengambil alih peranan dan tugas PSSI sembari mempersiapkan digelarnya Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI di Surabaya, 6 Maret nanti.
Menurut Toni, pihaknya segera menjalankan roda organisasi sesuai amanat mayoritas anggota PSSI. Seperti diketahui, sebanyak 452 dari total 583 anggota PSSI, baik dari klub maupun Pengprov sepakat untuk mencabut mandat mereka dari kepengurusan PSSI Djohar Arifin Husin, dan menyerahkannya pada KPSI.
Setelah kepengurusan saat ini demisioner, KPSI sebagai pengganti sementara kepengurusan PSSI akan mempersiapkan Kongres Tahunan PSSI pada 21 Januari mendatang di Bandung, Jawa Barat. Agenda pokok kongres tersebut adalah memilih Komite Pemilihan, serta Komite Banding Pemilihan.
Sementara itu, puluhan orang berkaos hitam sudah terlihat berjaga di kantor PSSI sejak pagi tadi. Mereka mengaku berasal dari Tanah Abang. Pada baju yang dikenakan tertulis SATGAS
"Kami dari Tanah Abang. Ini semua anak-anak dari Tanah Abang. Kami pernah jaga di sini sebelum tahun baru dan sekarang diminta jaga di sini lagi. Belum tahu sampai kapan," ujar salah seorang di antaranya saat ditemui VIVAnews.
Vivanews.com
1/02/2012
KPSI Segera Tuntaskan Dualisme Persija
"Penyelesaian persoalan klub-klub itu memang menjadi konsen kami di KPSI. Saya sendiri menganggap persoalan dualisme di klub ini timbul lantaran hilangnya rasa keadilan dan kejujuran. Misalnya Persija, kita semua tahu Persija mana yang sejak tahun-tahun sebelumnya main di liga. Sekarang tiba-tiba ada Persija baru, dan itu yang dianggap sah. Ini kan aneh," ujar Tony, Minggu 1 Januari 2011.
Senada dengan Tony, anggota KPSI yang juga Ketua Pengprov PSSI DKI Jakarta, Hardi Hasan juga bertekad untuk segera menuntaskan persoalan tersebut. Hardi mengatakan, KPSI dalam kerangka pembentukannya adalah untuk meluruskan PSSI dari segala sesuatu yang dirasa melenceng akibat kepengurusan Djohar Arifin Husin.
"Soal Persija, kami akan kembalikan sesuai semula, menyerahkan pada kubu yang paling berhak. Persija yang ada Bambang Pamungkas, itu yang seharusnya diakui, bukan yang lain. Adanya pengakuan Persija lain tentu mencederai seluruh warga Jakarta. Kedepan, kami akan kembalikan kepada yang berhak," ujar Hardi.
Hardi menambahkan, kerangka berpikir KPSI saat ini adalah mengacu pada amanat Kongres PSSI Bali, dan akan membuat seluruhnya dikembalikan pada aturan. "Start awal adalah Kongres di Bali. Saat itu sudah jelas klubnya mana saja. Termasuk Persija yang mana yang ikut dalam kongres itu," tutupnya.
Perpecahan di tubuh Macan Kemayoran dipicu oleh dualisme kepemilikan yang muncul saat pendaftaran peserta liga level satu yang digelar PSSI beberapa waktu lalu. Saat itu ada dua kubu yang mengklaim sebagai pengelola sah Macan Kemayoran. Masing-masing adalah PT Persija Jaya Jakarta dan PT Persija Jaya. Belakangan PSSI memenangkan PT Persija Jaya.
PT Persija Jaya lalu membentuk tim yang berlaga di IPL. Sedangkan tim yang dikelola PT Persija Jaya Jakarta tetap dihuni sebagian besar pemain yang musim lalu memperkuat Persija, ikonnya Bambang Pamungkas. Dukungan fans Persija yang akrab disebut The Jakmania juga mengalir kepada tim ini. Dualisme kepemilikan ini kini bahkan sudah merambah ke ranah hukum.
Vivanews.com
12/31/2011
KPSI Sudah Sampaikan Mosi Tak Percaya ke FIFA dan AFC
"Secara lisan kami memang sudah menyampaikan amanat mosi tidak percaya terhadap kepemimpinan Djohar Arifin ke FIFA dan AFC. Saat ini kami tinggal mengirim berkas resminya. Paling lambat Minggu depan sudah kita kirim," jelas Toni, seperti dikutip Tribunnews, Jumat (30/12/2011).
Toni menyatakan, pihaknya sangat yakin dapat menjalankan amanat para pemilik suara di PSSI. Dia juga yakin kongres tahunan PSSI yang akan digelar di Kota bandung, sesuai hasil rapat KPSI, akan berjalan lancar.
"Sudah disepakati kongres tahunan digelar di Bandung pada 21 Januari 2012 nanti. Dan saya sendiri yang akan mengomandoi penyelenggaraan kongres itu. Saat ini kita masih dalam tahap persiapan," ujarnya.
Kompas.com
Djohar Tetap Yakin Kepemimpinannya Tetap Diakui FIFA-AFC
"Jangan kacaukan keadaan. Semua harus berpikir untuk kepentingan bangsa. Kita harus berusaha agar bagaimana tetap berada dalam barisan FIFA maupun AFC. Jangan hanya ingin merebut kedudukan, 'Merah Putih' dikorbankan," kata Djohar dikutip dari Humas PSSI.
Menurut Djohar, pihaknya tidak begitu gusar dengan adanya "kudeta" yang dilancarkan Kelompok Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI), terhadap kepemimpinannya di induk organisasi sepak bola nasional.
Djohar yang saat ini tengah pulang kampung di Medan, dalam rangka liburan tahun baru, meminta kepada semua pihak tidak bertindak gegabah, yang nantinya justru berbuntut pada sanksi yang dijatuhkan untuk sepak bola Indonesia.
Sebagai sebuah organisasi, menurut Djohar, PSSI punya aturan main tersendiri yang wajib dipatuhi semua pihak. Apalagi, saat ini FIFA maupun AFC baru saja memerintahkan agar semua kompetisi harus di bawah kendali PSSI "Kita sedang berupaya agar klub di luar kompetisi resmi bisa ikut kompetisi PSSI. Selain itu, timnas kita bisa utuh seperti semula dan bukan sebaliknya," katanya.
Bola.net
12/29/2011
KPSI Bentuk Komdis-Komding, Tunjuk Sekjen dan Ketua BLAI
"KPSI mengangkat sekjen yang bersifat profesional, Hinca Panjaitan. Kami akan bayar, kami kontrak, dan paling tidak bisa menyelesaikan permasalahan administrasi internal dan federasi-federasi lain di negara lain, termasuk ke instansi di negara kita, KONI/KOI, dan Menpora," ujar Tony.
Selain mengangkat sekjen, KPSI juga membentuk Komite Disiplin dan Komite Banding. Komdis akan diketuai oleh Alfred Simanjuntak dan beranggotakan Gusti Randa, Mahfudin Nigara, Viktor Sitanggang, dan Abidin. Sementara Komding akan diketuai oleh Irjen Erwin Tobing dan beranggotakan Syarifudin Suding, Ateri Dahlan, dan Ramli Ibrahim. KPSI juga menentukan Ketua Badan Liga Amatir Indonesia. Ketua Pengurus Provinsi Riau, Indra Mukhlis, disepakati anggota KPSI untuk menduduki posisi tersebut.
"Beliau akan mengurusi liga amatir yang selama ini kurang mendapatkan perhatian," ujar Tony.
Berikut hasil rapat KPSI, Rabu (28/12/2011):
1. Mengangkat Hinca Panjaitan sebagai Sekjen KPSI.
2. Membentuk Komisi Disiplin dengan susunan personel: Alfred Simanjuntak sebagai ketua dan Gusti Randa, M Nigara, Viktor Sitanggang, serta Abidin sebagai anggota.
3. Membentuk Komite Banding dengan susunan personel: Erwin Tobing selaku ketua dan Syarifudin Suding, Ateri Dahlan, serta Ramli Ibrahim sebagai anggotanya.
4. Kongres tahunan dilaksanakan pada 21 Januari 2012 di Bandung, Jawa Barat.
5. Kongres Luar Biasa (KLB) dilaksanakan pada 6 Maret 2012 di Surabaya, Jawa Timur.
6. Dokumen RASN dikirim ke AFC dan FIFA pada 29 Desember 2011.
7. Mengangkat Ketua Pengprov Riau Indra Mukhlis sebagai Ketua BLAI..
Kompas.com
KLB PSSI Digelar 6 Maret 2012
Menurut Ketua KPSI, Tony Apriliani, pihaknya akan segera menjalankan roda organisasi PSSI setelah diberi amanat oleh 452 anggota PSSI dalam pertemuan di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu 28 Desember 2011. Sebanyak 452 anggota PSSI, baik dari klub maupun Pengprov, sepakat untuk mencabut mandat kepengurusan PSSI di bawah pimpinan Djohar Arifin Husin.
KPSI sebagai pengganti sementara kepengurusan PSSI akan menyiapkan sejumlah agenda, hingga sebelum KLB digelar. Rencananya KPSI akan menggelar Kongres Tahunan PSSI pada 21 Januari 2012 mendatang. Agenda pokok kongres tersebut adalah memilih Komite Pemilihan, serta Komite Banding Pemilihan.
"Tanggal 21 Januari 2012 kami akan menggelar Kongres Tahunan. Agenda utamanya adalah menentukan Komite Pemilihan dan Komite Banding. Rencananya, kongres akan dilaksanakan di Bandung," ujar Tony usai pertemuan di Hotel Sultan.
Setelah Kongres Tahunan, KLB dijadwalkan digelar 6 Maret 2012 di Surabaya, Jawa Timur. Menurut Tony, dari 452 anggota PSSi yang mencabut mandat kepengurusan Djohar, 76 anggota di antaranya merupakan pemilik suara sah PSSI.
Tony menilai langkah untuk menggelar KLB ini dilakukan setelah PSSI kepengurusan Djohar tidak menggubris aspirasi anggotanya yang dilakukan dalam Rapat Akbar Sepakbola Nasional (RASN).
"Pada 23 Desember kemarin, kami sudah sampaikan aspirasi kami. Kami hanya ingin tanggapan mereka. Tapi, ternyata sampai saat ini mereka tidak pernah mau mendengar anggotanya sendiri. Mereka sering bilang, mari bicara, kembali ke rumah dan lainnya. Tapi, telepon mereka semua dimatikan saat kami ingin ajak bicara," beber Tony.
Tony menambahkan, upaya berkomunikasi dengan PSSI juga terus dilakukan hingga sebelum ketuk palu penyerahan mandat dari mayoritas anggota PSSI kepada KPSI. Menurut Tony, seluruh pembesar PSSI saat ini justru terkesan lari dari persoalan.
"Kami mencoba berkomunikasi dengan mereka yang katanya ingin mengajak rekonsiliasi. Tapi, ternyata tidak ada tanggapan sama sekali dari PSSI. Saya coba telepon Sekjen PSSI (Tri Goestoro), tapi tidak diangkat. Lalu saya telepon lagi, ternyata nomornya sudah dimatikan," paparnya.
"Saya juga hubungi Direktur Organisasi PSSI, teleponnya mati juga. Bahkan nomor Ketua Umum PSSI (Djohar Arifin) juga mati. Jika kondisinya sudah seperti itu, kami kemudian sepakat untuk menganggap mereka tidak lagi kredibel sebagai pengurus PSSI. Anggota PSSI sudah tidak lagi mengakui mereka," tutup Tony.
Vivanews.
This Blog is @2008-2011 MULTI ETNIS Outlet Production
jakmania-utankayu.blogspot.com
Persija ampe mati..
-----------------------------------------------------------------